Entah
memang hanya saya pribadi yang merasakannya atau memang semua yang merasa
menjadi “Mahasiswa” saja?. Semenjak kuliah, semakin tidak punya waktu luang
seperti jaman sekolah dahulu untuk membaca buku kesukaan. Entah karena memang
waktu nya yang tidak ada atau memang merasa itu tidak lagi bisa menjadi
“Prioritas”. Mungkin dua-duanya benar. Mungkin juga keduanya salah. Tapi
menurutku, keduanya benar. Dan kamu, terserah mau pilih yang mana. Atau mau
membuat alasan sendiri. Bebas.
Dulu, saya hampir
tiap bulan mampir ke toko buku untuk membeli buku-buku baru dari uang hasil
menyisihkan uang jajan. Atau hampir setiap minggu dengan setia mengamati
timeline twitter penerbit buku kenamaan di negeri ini. Hanya untuk melihat, di
minggu ini ada buku apa saja yang akan terbit. Terbit karena buku itu baru atau
terbit karena cetak ulang. Ah, semuanya saya amati. Satu persatu mulai membuat to do list untuk mencatat buku apa saja
yang kiranya akan saya cari untuk kemudian saya beli.
Pernah
suatu ketika, satu tahun sebelumnya dapat info buku The Little Prince atau dalam bahasa perancisnya Le Petit Prince cetak ulang di Gramedia.
Tahu buku ini juga karena tidak sengaja melihat website goodreads untuk melihat referensi buku. Bertemulah saya dengan buku
ini. Buku sederhana yang banyak direkomendasikan orang banyak. Jadi ikut
penasaran, sehebat dan sekeren apa sih sampai banyak orang merekomendasikan.
Akhirnya, berniatlah untuk pergi ke toko buku mencari si dia. Alih-alih bisa
membawa pulang ternyata kehabisan karena telat datang dari orang-orang.
Alhasil, pulang dengan tangan hampa. Kemudian kembali pergi ke toko buku untuk
memesan pada Customer Service nya. Berharap satu dua minggu kedapan buku itu
ada ditangan saya. Namun nihil, sama sekali tidak ada. Sudah habis katanya. Ya
sudahlah mau bagaimana lagi. Lebih baik pulang dan mencari buku lain.
Tepat satu
tahun setelahnya, setelah saya mendapatkan buku The Return Of The Young Prince yang katanya buku ini adalah buku
lanjutan dari Le Petit Prince namun
berbeda penulis berhasil membuat saya berdecak kagum. Saya kembali memutuskan
untuk berburu Le Petit Prince. Untuk
mendapatkan gambaran seperti apa sih pangeran muda itu saat masih menjadi
“Cilik” pada masanya?. Alhasil, kita berjodoh. Bertemulah saya dengan buku itu
di salah satu toko buku di cibubur dengan tidak sengaja. Kebetulan atau memang
sudah ditakdirkan. Buku itu tinggal satu eksemplar lagi. Tidak perlu berpikir
lama, saya beli dan membawanya pulang ke rumah. Karena terlalu senang, tidak
ada satu jam buku itu habis di baca. Dan baru kali itu, merasakan kepuasan
terbayarnya penasaran selama ini. Benar-benar tidak sia-sia. Buku yang sangat
di rekomendasikan sekali. Hebat.
Dari situ
saya merasa, membaca menjadi salah satu hobi saya yang seharusnya saya selipkan
di sela-sela waktu sebelum tidur. Membaca buku selain pelajaran maksudnya.
Setelah lulus smk di masa saya mendapatkan libur yang terlampau panjang sebelum
akhirnya masuk kuliah. Hobi saya terus terjaga, terus berjalan dan rasanya
menyenangkan. Sampai berpikir “Tidak usah lah kuliah, membaca saja dirumah”
tapi percayalah, itu hanya pikiran sekelebat karena nafsu. Saya tetap
memutuskan kuliah kok. Sampai sekarang Alhamdulillah masih kuliah, ilmu nya
masih kurang soalnya.
Berhubung
jadwal kuliah saya yang lumayan padat karena satu semester tidak kurang dari 20
sks, dan sudah dua semester ini bertahan di 22 sks membuat saya seperti
kehilangan waktu untuk menyapa mereka buku-buku saya di lemari. Setiap kali ingin
membaca, jadi ingat “Duh, ada tugas”. “Duh, ada bacaan yang jauh lebih penting
dari mereka” karena buku yang saya punya lebih banyak novel detektifnya yang
tidak relevan sama sekali dengan jurusan kuliah yang saya ambil. Sempat membuat
jadwal, liburan semester nanti mau menghabiskan waktu untuk membaca mereka.
Tapi ternyata tidak, liburan semester 1 waktu itu hanya 2 minggu dipotong
jadwal masuk untuk ambil krs dan test TOEIC. Jadi tidak full 2 minggu. Disaat
teman-teman di kampus lain bisa merasakan libur 1 bulan. Yasudah saya bersyukur
saja, masih bisa libur.
Sampai saat
ini, membaca buku kesukaan seolah tidak lagi menjadi daya tarik. Sudah jarang
membaca sebelum tidur, karena lebih sering tidur di depan laptop yang masih
menyala sampai pagi sebab semalaman mengerjakan tugas dan lupa mematikan
laptop. Kenapa tidak mengerjakan tugas dari sore atau dari siang saja? Ya
karena saya lebih sering pulang kuliah sore hari menjelang malam. Lebih banyak
memiliki waktu luang di malam hari. Waktu dimana seharusnya saya terlelap
dengan damai tetapi beralih menjadi waktu yang membuat saya memeras otak dan
tenaga. Tidak apa-apa ini menyenangkan. Kadang saya merasa begitu.
Ini lah
perihal waktu yang membuat hobi saya “Ditinggalkan atau tertinggal?.”
Sebenarnya saya yang dengan sengaja meninggalkan atau tidak sengaja ditinggal?.
Pertanyaan yang akan terus saya cari jawabannya. Semoga, semakin memiliki
banyak waktu untuk melanjutkan hobi saya itu. Amin, semoga disuatu saat nanti. Berdoa
saja.