Tampilkan postingan dengan label TULISANKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISANKU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2022

Late Birthday Snack From My Doctor

Mama dan aku pergi kontrol yang kesekian kali di hari minggu

Minggu, 30 Januari 2022. Entah sudah kali keberapa mengunjungi dokter dari setiap satu minggu sekali sampai sekarang hanya satu bulan sekali. Rasanya lelah, senang, semua campur aduk jadi satu. Lelah karena harus bolak-balik rumah sakit, senang karena setiap ketemu sesama pasien ada cerita baru yang dibagi, juga perbincangan seru setiap bertemu dengan dokter. Dari mulai biasa saja, senang, sedih, menangis sesenggukan, terbata-bata bercerita, sampai tertawa bersama dan mendapatkan surprise yang menurutku ini luar biasa.

Berawal di tanggal 5 Desember 2021, dokter notice hari ulang tahunku karena memang data itu ada di rekam medis pasien. Alhasil dokter mengetahui hari ulang tahunku dan aku diucapkan happy birthday. Wah, baru kali ini selama pergi ke dokter diucapin ulang tahun. Rasanya mengharukan, karena buatku ulang tahun adalah salah satu pengingat yang menyeramkan. Usia berkurang, angka bertambah, beban hidup juga semakin bertambah. Tepat di tanggal 2 Januari 2022 dokter mengucapkan happy birthday lagi dan menanyakan aku ingin hadiah apa? Jujur, aku kaget dan heran kenapa bisa diberi pertanyaan seperti itu. Jelas aku tidak ingin merepotkan, lagi pula malu sudah besar masih minta hadiah ulang tahun haha.

"Mau kado apa?." Kata dokterku. Aku diam dan bingung

"Emang harus ya dok?." pertanyaan bodoh. Padahal bisa saja bilang tidak usah tapi entah kenapa malah kalimat itu yang keluar.

"Ya, biasanya yang lain aku kasih cokelat. Kamu suka cokelat?."

"Enggak terlalu sih dok hehe."

"Yaudah, nanti jangan dilihat harga barangnya ya." ucapnya sambil tersenyum. Aku otomatis mengangguk hahaha.

Menonton Its Ok To Not Be Ok ditemani snack hadiah dari dokter ku.

Tepat di tanggal 30 januari 2022 adalah jadwal kontrol ku kembali. Dari luar aku tidak sengaja melihat suster masuk ke ruangan dokter ku membawa balutan kain bersi snack. Dan ternyata snack itu buatku haha. Menyenangkan dan lucu sekali ya, dokter ku baik sekali. Akhirnya aku keluar ruangan seperti anak kecil menghampiri mama sambil membawa beberapa snack dari dokterku. Mama hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa.

Mungkin memang tidak seberapa tapi buatku ini luarbiasa. Terima kasih ya dokterku yang baik sekali, snack nya aku makan sambil nonton "It's Ok To Not Be Okay" sebagai film rekomendasi dari dokter ku. Semoga kebaikannya berbalas dan jangan bosan mendengar ceritaku setiap konsul atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam kepala ku yang haus jawaban hehehe. Doakan saja aku cepat pulih, mentally stable dan berhenti minum obat :)

 

Kamis, 17 Mei 2018

ANGKA 4 DAN INSIDEN DI TANGGA KAMPUS



Hari itu selasa, dua hari yang lalu. Sebenarnya lupa sedang bahas apa di awal bersama teman-teman. Hingga tiba-tiba pembahasan kami nyambung pada “Misteri Angka 4 Di Gedung”. Saya waktu itu datang ke sebuah tempat di daerah dekat rumah. Tidak jauh, dekat juga tidak. Ada sebuah perumahan besar disana, ada mall juga tempat saya biasanya mampir ke toko buku lalu pulang lagi. Di belakang mall itu ada sebuah bangunan yang hampir jadi. Sebuah apartment yang akan menghiasi kota kecil cileungsi. Saya sendiri kesal, kapan sih selesainya? Kepo maksudnya, ingin tau seperti apa kalau sudah jadi nanti. Ketika keluar dari mall lewat pintu belakang menuju parkiran motor, saya diam sejenak melihat proses pembangunan gedung apartment tersebut. Saya lihat penomoran lantai yang kebetulan kelihatan jelas dari luar “1,2,3,5,6,7,8,9,10,11,12,15…”. Loh? Saya merasa ada yang janggal. Saya ulang lagi berhitung nya. Dan tetap sama. Angka 4 nya kemana??? Ini saya yang ga bisa ngitung, salah ngitung atau bagaimana ya? Atau memang sengaja tidak ada angka 4? Lalu angka 13 dan 14 juga hilang. Saya makin dibuat bertanya-tanya. Dan ternyata ada mitos dibalik angka 4 terutama.

Hari selasa itu di kampus setelah berbincang bersama teman mengenai lantai 4 saya langsung buka hp dan searching “Ada apa dengan angka 4?” lalu bertemulah saya dengan sederet fakta-fakta yang menarik untuk dibaca. Percaya ga percaya sebenarnya. Tapi ya sudah lah setidaknya rasa penasaran saya terjawab juga.

Ketika sedang asyik membaca mitos angka 4 itu, saya memutuskan untuk masuk ke kelas, kebetulan harus turun tangga satu lantai. Hari selasa, pakai office wear dan pakai pantofel. Karena terlalu asyik membaca dan tidak melihat ke bawah saat menuruni tangga. Kaki saya melewati satu tangga untuk sampai ke dasar. Dan akhirnya, jatuh lah. Untung dengkul duluan yang kena, jadi gak keseleo. Sempat panic takut sepatu nya rusak. Hahaha tetap ya lebih mentingin sepatu daripada dengkul. Rasanya sakit dan malu. Teman-teman dibelakang saya sempat kaget dan kemudian tertawa. Karena lagi-lagi saya jatuh tidak diam dulu di bawah, entah kenapa reflek berdiri lagi. Kejadian ini pernah saya alami waktu naik gunung ke gunung gede. Jatuh dan reflek berdiri lalu lanjut jalan. Sahabat saya waktu itu tertawa terbahak karena jatuhnya konyol katanya. Dimana-mana orang jatuh kan diam dulu lalu mengeluh sakit. Saya tidak, langsung berdiri dan lanjut jalan. Kemarin pun sama, saya bergegas masuk ke dalam kelas.

Awalnya ga sakit-sakit banget. Cuma perih tapi gak luka. Lalu gak lama sakitnya hilang. Eh, kemudian terasa lagi sakitnya saat mau pulang. Entah karena dengkulnya trauma lalu pakai pantofel atau bagaimana saya juga gak paham. Intinya cenad-cenud sampai rumah. Ga enak juga sih, harus turun tangga lagi waktu mau pulang dengan dengkul yang sakitnya lumayan itu. Rasanya pengen nyeker aja lepas sepatu pantofel saya. Tapi malu juga sih, walau dulu pernah ngelakuin itu waktu masuk pagi. Nyeker dari bawah tangga sampai kelas. Hahaha.
Setelahnya saya jadi kapok untuk main hp di tangga. Serem banget ternyata, ga lucu juga kan kalau terulang lagi. Ya walaupun main hp nya bukan lagi main game atau selfie. Sama aja, bahaya. Jangan ditiru lah ya. Ga baik.

Sekian. 


photos source : https://www.pexels.com/photo/photography-of-girl-in-white-dress-standing-in-front-of-railings-758859/

Sabtu, 14 April 2018

KADANG, TUHAN MENITIPKAN PESAN UNTUK BERSYUKUR LEWAT ORANG YANG TIDAK PERNAH KITA DUGA




Saat itu hari minggu, setelah kejadian menonton ibu-ibu dan mas-mas di parkiran, saya dan mama memutuskan untuk mencari lobak. Sebelum supermarket itu buka, kami memutuskan untuk mampir dan lihat-lihat sebentar pasar kaget di dekat salah satu sekolahan disana. Yang namanya pasar kaget, pasti banyak pedagang-pedagang kecil. Banyak orang-orang berlalu lalang untuk mencari dan membeli barang atau bahkan hanya sekedar lihat-lihat dengan mata telanjang. Mereka, manusia-manusia yang baru saja menikmati hidupnya di hari minggu untuk bersantai setelah senin-sabtu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ah, ini benar-benar indah dipandang mata.

Sebetulnya beberapa minggu kebelakang saya tiba-tiba berubah menjadi pecinta minuman dari olahan susu yang sekarang sedang booming karena selain rasanya yang beraneka juga bentuk packaging botol nya yang unik-unik. Alhasil, setiap jalan-jalan di minggu pagi di tempat itu, saya harus bertemu dengan mbak-mbak dan mas-mas yang jualan minuman. Itu juga kalau lagi ada uang, kalau ga ada ya gak beli dong.

Setelah memakan waktu agak lama sembari menemani mama melihat-lihat barang yang kemudian malah jadi beli pisau untuk memasak di dapur. Mama masih asyik mengelilingi sekitar pasar kaget itu. Sebenarnya mau bilang “Ma, udah yuk.” Etapi ga berani. Alhasil, saya ikuti alias ngekor kemanapun mama pergi. Anggap saja bukan anak manja tetapi sedang quality time berdua. Hihihi.

Sampai ketika memutuskan untuk menyudahi kegiatan melihat-lihat ini, mama masih menjumpai salah satu pedagang kecil yang berjualan bros. Tau bros ga? Peniti. Itu loh yang suka di kerudung-kerudung. Mama kebetulan suka dengan barang-barang seperti itu. Buat jaga-jaga aja katanya sih kalau suatu saat mau ganti model bros di kerudungnya. Biar banyak pilihannya. Yasudah saya nurut.

Harga bros itu gak mahal, murah malah menurut saya. Yang kecil 10.000 dapet 3 buah. Yang besar ada yang 5000an sampai 15000. Barang dagangan yang mas-mas itu bawa untuk dijual gak banyak. Malah saya jadi mikir waktu melihat nya “Bisa untung berapa satu hari kalau Cuma jualan segini? Emang cukup buat memenuhi kehidupan nya?.” Tiba-tiba saya jadi mikir. Tumben.

Selagi mama berbincang dan memutuskan mengeluarkan uang untuk membayar bros yang dibeli. Saya gak sengaja menangkap pemandangan mengharukan di belakang mas-mas ini. Ada seorang wanita yang saya yakin umurnya 20-an dan lebih tua dari saya. Ada seorang anak kecil yang masih balita sedang merengek dalam gendongannya. Awalnya bingung, siapa sih? Ternyata wanita ini adalah istri dari mas-mas penjual bros nya. Anaknya minta susu ternyata, kemudian si mas-mas ini mencoba menenangkan supaya anaknya gak rewel. Pemandangan yang mengharukan sekaligus menyedihkan.

Pada saat mama akhirnya membeli bros itu, saya tidak sengaja menangkap satu senyuman penuh kebahagiaan dan harapan disana, di wajah wanita itu yang masih menggendong anaknya. Terlihat jelas sekali, membuat saya ikutan terenyuh. Ah, cengeng ternyata. Si mas-mas mengucapkan “Makasih banyak ya bu.” Dan si istri ikut tersenyum kearah kami. Seolah-olah senang sekali, hari ini sang suami kebanggaannya berhasil mendapatkan pelanggan lagi. Atau malah dari tadi belum ada yang beli sama sekali? Saya tidak tahu. Setelahnya kami memutuskan untuk kembali ke parkiran.

Selama di perjalanan menuju parkiran, saya sempat cerita ke mama tentang apa yang barusan saya lihat, tentang apa yang baru saja terjadi. Ternyata bahagia menurut versi masing-masing manusia berbeda kadarnya. Saya mungkin merasa bahagia ketika bisa menikmati libur dengan leha-leha. Atau sekedar makan es krim sampai radang. Atau mungkin bisa lulus kuliah tepat waktu, tidak stress dan dapat kerja. Itu mungkin versi saya. Kalian? Entah, saya yakin kalian juga punya kadar bahagia masing-masing. Dan mas-mas tadi beserta istrinya mungkin merasa bahagia karena hal-hal kecil seperti tadi. Sederhana sih bagi kita yang melihatnya, tapi bagi orang lain? Bagi mereka? Itu mungkin bisa jadi salah satu hal yang sangat membahagiakan. Haaahhh… jadi mengukur kebahagiaan orang lain tidak harus disamaratakan dengan harta. Alasan bahagia beda-beda ternyata.

Dari situ, saya teringat betapa beruntungnya saya yang kalau minta apa-apa tinggal bilang mama. Pulang kuliah uang jajan habis dan lapar? Tinggal bergegas pulang dan sampai rumah nanya “Ma, masak gak?” atau dari kampus sudah chat duluan “Mama masak gak?” dan lain sebagainya. Mau makan tinggal bilang, mama ga masak masih bisa beli. Tanpa harus bersusah payah kerja cari uang. Tapi diri ini sering nya ngeluh dan males, merasa beban hidup nya paling berat dan paling rumit. Padahal enggak, gak ada apa-apanya sama mereka-mereka. Dikasih tugas banyak ngeluh, gak dikasih tugas nanti protes, dikira kuliah bayar nya murah apa? Giliran dikasih tugas bilangnya gak sayang mahasiswa dan memeras otak. Kita ini memang seringnya nyalahin orang, tapi malas nyalahin diri sendiri dan intropeksi diri. Kita ini senangnya mengeluh, merasa beban hidup paling rumit. Tapi lupa, sebenarnya kalau dijalani ya gak kerasa, tiba-tiba selesai. Karena Tuhan maha baik sekali. Kita ini sering ngeluh, gak puanya uang, mau beli apa-apa gak ada uang. Ya wong uang nya habis buat hal-hal yang kurang penting tapi gak mau nabung dan prihatin. Ah, kita ini gak ada apa-apanya sama mereka-mereka diluar sana yang kurang beruntung. Bahkan rasanya kita wajib belajar bersyukur dari mereka. Karena kan Allah sendiri bilang yang pandai bersyukur akan ditambahkan nikmatnya. Nah loh, kurang baik apa coba?

Semoga, dari sini kita bisa belajar hal-hal kecil dan sederhana seperti ini dari orang-orang disekitar kita. Dari orang-orang tidak terduga. Dari orang-orang yang kita anggap tidak ada apa-apanya. Percayalah, belajar tidak harus selalu dengan guru, datang ke sekolah atau ke kampus. Tidak harus dengan orang yang lebih tua, berpendidikan lebih tinggi atau yang berpangkat. Belajar dari orang-orang yang di bawah. Belajar dari mereka yang kita anggap rendah. Tapi ternyata jauh lebih hebat dari kita.

Sekian. 


Kamis, 12 April 2018

BALADA PARKIRAN DAN EMOSI DI MINGGU PAGI




25 februari di hari minggu pada pagi hari. Sebenarnya ga ada niatan untuk jalan-jalan pagi karena kebetulan saya termasuk orang yang lebih sering malas kemana-mana ketika sudah hari libur. Apalagi minggu, maunya di rumah aja tidur sepuasnya sampai siang. Tapi pasti akan ada seseorang yang siap-siap ceramah karena saya anak perempuan. Gak boleh bangun siang dan malas katanya. Ok, akhirnya saya bangun dan siap-siap antar mama untuk cari lobak waktu itu. Lobak ternyata lumayan sulit di cari ya? Atau memang didaerah sini aja yang susah? Gak tau deh. Setelah hampir muterin abang-abang sayur di cileungsi, akhirnya nyerah juga dan memutuskan untuk pergi ke salah satu super market di metland. Finally! Ketemu juga lobaknya. Sebenernya sebelum ketemu si lobak ini, ada cerita yang membuat saya ikut geram dan tertawa miris. Sekaligus intropeksi karena saya juga masih sering melakukan itu.

Ketika sebelum acara mencari lobak di mulai, saya dan mama memutuskan untuk jalan-jalan sebentar dan nonton acara live music salah satu stasiun tv waktu itu. Pagi-pagi dan banyak orang. Ya jelas banyak orang, namanya juga acara tv. Nonton dari kejauhan aja waktu itu karena sebenarnya saya Cuma kepo gimana sih para crew bekerja di balik layar. Setelah lihat langsung. Oohhh gitu toh caranya. Maklum, saya norak soalnya. Tapi Alhamdulillah, jadi tau.

Disana gak lama, karena bete juga panas-panasan ngeliatin banyak orang yang lagi ngeliatin artis shooting acara music. Kemudian saya dan mama memutuskan untuk kembali pada tujuan utama. Beli lobak. Waktu itu sebenernya males banget ngeluarin motor dari parkiran mall. Karena udah pasti akan sangat ramai dan desek-desekan ngantri keluar dari parkiran. Nah, disinilah kejadian tidak enak dipandang mata dimulai.

Pada saat yang lain sibuk mengantri untuk bisa bergiliran keluar satu persatu dari parkiran yang udah mulai sesak ini, ada satu motor isinya ibu-ibu dan bonceng ibu-ibu. Jadi intinya. Itu ibu-ibu. Bawa matic pula. Beuh, udah deh pasti langsung kebayang kalau ada tulisan “Ibu-ibu bawa matic”. Kesannya serem banget. Entah kitanya yang emang segan untuk marah-marah dan kesel karena dia ibu-ibu atau bagaimana saya juga gak paham. Tapi saya yakin ga semua ibu-ibu seperti itu. Cuma beberapa aja. Iya. Beberapa aja. Semoga saya, kalian dan ibu-ibu kita tidak seperti itu. Jangan sampai pokoknya!.

Balik lagi di acara antri mengantri nan panjang sekali untuk bisa sampai ke tempat mas-mas parkiran. Sampe pegel di motor dan kesel karena bensin waktu itu limit. Pengen buru-buru ke pom bensin rasanya. Ketika saya lagi bete dan kesel karena diri sendiri dan si motor yang kehausan, terik pula suasananya karena sudah mau jam 9 nan. Kebayang rasanya seperti apa. Ketika lagi asyik belajar sabar saat ngantri, eh di depan saya ada mas-mas yang bonceng mbak-mbak menegur ibu-ibu yang bawa matic tadi karena mau nyalip. Kesel dong? Jelas. Mas-masnya marah? Ah, enggak. Enggak ngebentak maksudnya, tapi dari nada bicaranya saya yakin mas-masnya ini kesel. Gimana gak kesel, kita udah nahan sabar, belajar sabar buat ngantri dan itung-itung belajar jadi warga Negara yang baik karena suka mengantri. Tiba-tiba ada yang mau nyalip. Kalau gak salah si mas nya bilang “Jangan nyalip dong bu, muter lewat belakang. Yang lain aja muter.” Ga ngebentak, waktu itu Cuma bilang biasa doang. Lalu si ibu-ibu itu jawab “Ya mas nya maju aja dulu, nanti saya masuk di belakang masnya.!” Nah disini nih, yang bikin saya rasanya ikutan kesel soalnya si ibu nadanya tinggi. “Bu!!! Saya yang dibelakang mas-masnya juga gak mau disalip!.” Rasanya saya mau bilang gitu. Tapi gak jadi, karena takut memperkeruh suasana. Jadi ya sudahlah di tonton saja sambil elus dada.

Lalu, mereka masih aja debat, si ibunya gak mau muter untuk ngantri dan si masnya juga gak mau disalip. Saya juga sih, gak mau disalip. Setelah percekcokan panas yang sebentar tapi rasanya lama itu, akhirnya berakhir lah karena perlahan-lahan motor melaju. Si ibu itu masih cekcok kemudian entah gimana ceritanya orang-orang dibelakang saya nyorakin si ibu itu dan bela mas-masnya. Saya gak ikut nyorakin, sumpah! Ga berani. Pengen sih tapi takut dosa. Serius deh. Buru-buru lah maju mepet sedikit motor mas-masnya biar saya tetep dibelakang si mas-masnya. Dan si ibu itu waktu ngeliat saya maju nutupin akses dia buat masuk kebarisan mukanya jadi nyeremin dong. Sumpah deh gak bohong. Saya berasa jadi salah banget, berasa jadi orang yang ngambil hak orang lain untuk ngantri. Padahal enggak!. Lalu, setelah motor perlahan maju, saya lihat spion mau tau si ibu tadi ada dimana, dan ternyata. Di belakang saya! Astaga. Langsung istigfar waktu itu. Beneran deh.

Setelah suasana mulai kondusif, saya iseng lagi lihat spion. Dan yaaa saya beneran gak habis pikir deh. Si ibu itu masih ngedumel ngomel-ngomel sama kejadian tadi. Kenapa tau? Soalnya kedengeran banget, jadi bukannya nguping tapi emang gak sengaja kedengeran terus ya saya lanjutin deh ngedengerinnya. Saya sama mama Cuma bisa geleng-geleng kepala ngeliat kejadian itu. Masih aja nyalahin orang padahal diri sendiri salah. Etapi, memang biasanya begitu kan? Kita juga biasanya gitu, gengsi, kalau bisa ngotot dan masih bisa ngelak ya akan tetap mempertahankan argument kalau kita tidak “merasa” salah. Jangan ditiru ya teman-teman. Kita belajar bareng-bareng buat sadar diri kalau kita emang salah. Walaupun ini terasa sulit. Hehe.

Dari situ lah saya jadi berpikir. Ada sesuatu yang salah disini. Waktu itu saya sempat baca salah satu tulisan seseorang di twitter (kalau gak salah juga) tapi lupa namanya. Kalau tidak salah dia bilang “Negeri ini tidak akan berubah menjadi negara maju kalau masyarakatnya masih seenaknya dan tidak mau diatur menjadi lebih baik.” Dari kalimat itu saya jadi tiba-tiba mikir. “Negeri ini sebenarnya kenapa?.”

Apa kita benar-benar krisis toleransi? toleransi pada diri sendiri dan orang lain. Apa memang seharusnya di kurikulum pendidikan kita harus ada mata pelajaran tata krama, budi pekerti, akhlak dan segala macamnya?. Sepertinya iya dan bisa jadi tidak perlu. Biar seperti jepang, sampai sekarang saya masih tidak habis pikir kenapa orang-orang jepang bisa sabar mengantri? Saya beneran gak tahu. Apa karena dari system pendidikan mereka? Bisa jadi.

Ketika seseorang sebenarnya melakukan kesalahan namun merasa dirinya memiliki power (kekuasaan atau kedudukan lebih tinggi) dari orang lain. Saya yakin tingkat rasa gengsi juga semakin tinggi. Sama seperti kita yang kadang tidak mau di protes atau di koreksi oleh anak kecil padahal apa yang mereka sampaikan baik. Tapi karena kita merasa punya power/kekuasaan/kedudukan lebih tinggi dari anak kecil tersebut dan merasa lebih pintar atau lebih tau, akhirnya tidak mau mengakui kesalahan karena takut di anggap rendah.

So, mari kita belajar bersama-sama untuk saling memahami dan mengerti posisi diri sendiri serta orang lain. Mari sadar akan kesalahan diri sendiri. Kalau berbuat salah, beranilah meminta maaf. Tidak usah menyanggah dan coba nerimo lah. Akan jauh lebih baik daripada harus pakai emosi dan nafsu. Oh, iya. Jangan lupa belajar disiplin. Ini penting banget, menyela barisan orang adalah bagian dari kurangnya rasa disiplin didalam diri. Gak boleh, ya. Kecuali emang darurat banget, tapi juga harus bilang baik-baik ke yang bersangkutan supaya gak emosi dan bisa dimengerti. Kalau nyampeinnya baik-baik pasti respon nya baik juga.

Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat bagi yang membaca. Sama-sama belajar, karena saya juga masih sering emosian kalau di jalan. Sekian.
Diberdayakan oleh Blogger.

Most Popular

Featured
Videos
banner image

Labels Max-Results No.

BTemplates.com

designcart

About

Featured Post

Late Birthday Snack From My Doctor

Mama dan aku pergi kontrol yang kesekian kali di hari minggu Minggu, 30 Januari 2022. Entah sudah kali keberapa mengunjungi dokter dari se...

Blog Archive

Cari Blog Ini

Recent Posts

recentposts

Facebook

Featured

Video of the Day

Break

Games

Recent Posts

recentposts

Welcome

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!

Vix no volumus ocurreret maiestatis, quaeque alienum eum te, semper principes deseru


Find More



About Us

About Us
Aliquam sapien nulla, venenatis id finibus at, eleifend a turpis. Aliquam ac nibh id lorem ornare accumsan maximus at mauris.

Categories

  • TULISANKU

Tags

TULISANKU

Subscribe Us

Pages

Pages

Pages - Menu

Like us on Facebook

banner image

Pages - Menu

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts