Saat itu hari minggu, setelah kejadian menonton ibu-ibu
dan mas-mas di parkiran, saya dan mama memutuskan untuk mencari lobak. Sebelum
supermarket itu buka, kami memutuskan untuk mampir dan lihat-lihat sebentar
pasar kaget di dekat salah satu sekolahan disana. Yang namanya pasar kaget,
pasti banyak pedagang-pedagang kecil. Banyak orang-orang berlalu lalang untuk
mencari dan membeli barang atau bahkan hanya sekedar lihat-lihat dengan mata
telanjang. Mereka, manusia-manusia yang baru saja menikmati hidupnya di hari
minggu untuk bersantai setelah senin-sabtu sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Ah, ini benar-benar indah dipandang mata.
Sebetulnya beberapa minggu kebelakang saya tiba-tiba
berubah menjadi pecinta minuman dari olahan susu yang sekarang sedang booming
karena selain rasanya yang beraneka juga bentuk packaging botol nya yang
unik-unik. Alhasil, setiap jalan-jalan di minggu pagi di tempat itu, saya harus
bertemu dengan mbak-mbak dan mas-mas yang jualan minuman. Itu juga kalau lagi
ada uang, kalau ga ada ya gak beli dong.
Setelah memakan waktu agak lama sembari menemani
mama melihat-lihat barang yang kemudian malah jadi beli pisau untuk memasak di
dapur. Mama masih asyik mengelilingi sekitar pasar kaget itu. Sebenarnya mau
bilang “Ma, udah yuk.” Etapi ga berani. Alhasil, saya ikuti alias ngekor
kemanapun mama pergi. Anggap saja bukan anak manja tetapi sedang quality time
berdua. Hihihi.
Sampai ketika memutuskan untuk menyudahi kegiatan
melihat-lihat ini, mama masih menjumpai salah satu pedagang kecil yang
berjualan bros. Tau bros ga? Peniti. Itu loh yang suka di kerudung-kerudung. Mama
kebetulan suka dengan barang-barang seperti itu. Buat jaga-jaga aja katanya sih
kalau suatu saat mau ganti model bros di kerudungnya. Biar banyak pilihannya.
Yasudah saya nurut.
Harga bros itu gak mahal, murah malah menurut saya.
Yang kecil 10.000 dapet 3 buah. Yang besar ada yang 5000an sampai 15000. Barang
dagangan yang mas-mas itu bawa untuk dijual gak banyak. Malah saya jadi mikir
waktu melihat nya “Bisa untung berapa satu hari kalau Cuma jualan segini? Emang
cukup buat memenuhi kehidupan nya?.” Tiba-tiba saya jadi mikir. Tumben.
Selagi mama berbincang dan memutuskan mengeluarkan
uang untuk membayar bros yang dibeli. Saya gak sengaja menangkap pemandangan
mengharukan di belakang mas-mas ini. Ada seorang wanita yang saya yakin umurnya
20-an dan lebih tua dari saya. Ada seorang anak kecil yang masih balita sedang
merengek dalam gendongannya. Awalnya bingung, siapa sih? Ternyata wanita ini
adalah istri dari mas-mas penjual bros nya. Anaknya minta susu ternyata,
kemudian si mas-mas ini mencoba menenangkan supaya anaknya gak rewel.
Pemandangan yang mengharukan sekaligus menyedihkan.
Pada saat mama akhirnya membeli bros itu, saya tidak
sengaja menangkap satu senyuman penuh kebahagiaan dan harapan disana, di wajah
wanita itu yang masih menggendong anaknya. Terlihat jelas sekali, membuat saya
ikutan terenyuh. Ah, cengeng ternyata. Si mas-mas mengucapkan “Makasih banyak
ya bu.” Dan si istri ikut tersenyum kearah kami. Seolah-olah senang sekali,
hari ini sang suami kebanggaannya berhasil mendapatkan pelanggan lagi. Atau
malah dari tadi belum ada yang beli sama sekali? Saya tidak tahu. Setelahnya
kami memutuskan untuk kembali ke parkiran.
Selama di perjalanan menuju parkiran, saya sempat
cerita ke mama tentang apa yang barusan saya lihat, tentang apa yang baru saja
terjadi. Ternyata bahagia menurut versi masing-masing manusia berbeda kadarnya.
Saya mungkin merasa bahagia ketika bisa menikmati libur dengan leha-leha. Atau
sekedar makan es krim sampai radang. Atau mungkin bisa lulus kuliah tepat
waktu, tidak stress dan dapat kerja. Itu mungkin versi saya. Kalian? Entah,
saya yakin kalian juga punya kadar bahagia masing-masing. Dan mas-mas tadi
beserta istrinya mungkin merasa bahagia karena hal-hal kecil seperti tadi. Sederhana
sih bagi kita yang melihatnya, tapi bagi orang lain? Bagi mereka? Itu mungkin
bisa jadi salah satu hal yang sangat membahagiakan. Haaahhh… jadi mengukur
kebahagiaan orang lain tidak harus disamaratakan dengan harta. Alasan bahagia
beda-beda ternyata.
Dari situ, saya teringat betapa beruntungnya saya
yang kalau minta apa-apa tinggal bilang mama. Pulang kuliah uang jajan habis
dan lapar? Tinggal bergegas pulang dan sampai rumah nanya “Ma, masak gak?” atau
dari kampus sudah chat duluan “Mama masak gak?” dan lain sebagainya. Mau makan
tinggal bilang, mama ga masak masih bisa beli. Tanpa harus bersusah payah kerja
cari uang. Tapi diri ini sering nya ngeluh dan males, merasa beban hidup nya
paling berat dan paling rumit. Padahal enggak, gak ada apa-apanya sama
mereka-mereka. Dikasih tugas banyak ngeluh, gak dikasih tugas nanti protes,
dikira kuliah bayar nya murah apa? Giliran dikasih tugas bilangnya gak sayang
mahasiswa dan memeras otak. Kita ini memang seringnya nyalahin orang, tapi
malas nyalahin diri sendiri dan intropeksi diri. Kita ini senangnya mengeluh,
merasa beban hidup paling rumit. Tapi lupa, sebenarnya kalau dijalani ya gak
kerasa, tiba-tiba selesai. Karena Tuhan maha baik sekali. Kita ini sering
ngeluh, gak puanya uang, mau beli apa-apa gak ada uang. Ya wong uang nya habis
buat hal-hal yang kurang penting tapi gak mau nabung dan prihatin. Ah, kita ini
gak ada apa-apanya sama mereka-mereka diluar sana yang kurang beruntung. Bahkan
rasanya kita wajib belajar bersyukur dari mereka. Karena kan Allah sendiri
bilang yang pandai bersyukur akan ditambahkan nikmatnya. Nah loh, kurang baik
apa coba?
Semoga, dari sini kita bisa belajar hal-hal kecil
dan sederhana seperti ini dari orang-orang disekitar kita. Dari orang-orang
tidak terduga. Dari orang-orang yang kita anggap tidak ada apa-apanya.
Percayalah, belajar tidak harus selalu dengan guru, datang ke sekolah atau ke
kampus. Tidak harus dengan orang yang lebih tua, berpendidikan lebih tinggi
atau yang berpangkat. Belajar dari orang-orang yang di bawah. Belajar dari mereka
yang kita anggap rendah. Tapi ternyata jauh lebih hebat dari kita.
Sekian.

0 komentar:
Posting Komentar