Kata kebanyakan orang, kisah
romantis hanya dimiliki Romeo dan Juliet. Kamu pasti belum pernah baca kisah
Dilan dan Milea. Setelah nya kamu akan mengerti definisi romantis ternyata
luas. Dan aku menyukai definisi romantis ala Dilan. Ya… bagaimana ya? Sederhana
saja gitu. Tidak lebay dan berlebihan seperti remaja jaman sekarang.
Bagi sebagian orang apalagi orang
dewasa akan beranggapan film Dilan ini bukan film mereka banget. Bagaimana ya?
Kan mungkin memang target market nya ayah Pidi Baiq juga bukan mereka. Lagi
pula aku tidak keberatan dengan film ini. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada
kisah mereka berdua semenjak membaca bukunya. Memang menurutku euphoria ketika
membaca dan menonton itu berbeda. Aku juga sempat pernah bilang “kalau sudah baca bukunya, jangan nonton
film nya. Pilih salah satu saja. Nanti kecewa” tapi bagaimana ya? Untuk
kali ini aku tidak kecewa. Hahaha.
Pertama kali tau Dilan 1990 dari
Viny. Waktu itu, entah hari apa dan tanggal berapa, aku lupa. Tapi aku ingat
satu hal. Saat itu malam, dan aku sedang membaca blog nya Viny. Kebetulan
sekali aku suka tulisan-tulisannya. Hari itu Viny sedang bahas buku Dilan 1990.
Awalnya aku belum tahu. Tapi setelah ku cari tahu ternyata isinya romantis. Dan
kalimat yang paling aku ingat dari buku itu adalah “Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau
sore. Tunggu aja.” Hahaha lucu sekali pikirku. Ada laki-laki yang berbicara
seperti itu pada seorang perempuan. Romantis? Iya. Tapi sederhana. Bagaimana?
Bayangkan saja sendiri.
Akhirnya setelah aku berhasil
senyum-senyum sendiri baca bukunya. Aku bisa menikmati versi film nya. Awalnya
takut. Takut di luar ekspektasi dan jauh bayangannya ketika membaca. Tapi,
ternyata aku salah. Bioskop penuh, aku hampir kehabisan tiket. Tapi berhasil
juga. Ya walaupun harus dapat seat yang sedikit tidak nyaman. Tapi tidak
apa-apa. Aku suka.
Kanan kiri ku pasangan muda, atas
bawah ku juga sama. Aku? Jangan tanya. Aku sendiri. Teman ku yang sempat
berangkat bareng lebih memilih menonton film action kesukannya. Tak apa lah.
Yang penting aku bisa nonton Dilan. Sepanjang film, kami disuguhkan
adegan-adegan romantis yang membuat bibir tiba-tiba tersenyum sendiri dan tawa
akibat ulah konyol Dilan. Setelahnya air mata juga ikut andil. Dia jatuh di
beberapa scene yang mengharukan dan menyedihkan. Aku memang belum pernah
merasakan jatuh cinta pada lawan jenis. Aku juga belum pernah merasakan
hubungan pacaran layaknya remaja saat ini. Aku masih senang sendiri dan
beberapa kali menolak untuk memiliki hubungan lebih. Maka dari itu aku tidak
pernah benar-benar merasakan apa itu kasmaran dan jatuh cinta. Sesekali pernah
tapi itu sebatas kagum. Kamu pasti tau itu. Dan film ini sukses membuatku
seolah-olah ikut merasakan bahwa jatuh cinta ternyata seindah itu. Aku bisa
merasakan menjadi Milea si gadis yang beruntung pernah di cintai sebegitu besar
oleh Dilan. Aku bisa merasakan sedih dan senang nya Milea. Di beberapa scene
aku menangis haru, tertawa sampai menangis sedih. Dan hal yang tidak pernah aku
rasakan atau bayangkan sebelumnya. Setelah film selesai. Penonton riuh bertepuk
tangan. Wow! Ini pengalaman baru. Terserah lah kau mau bilang aku norak atau
bagaimana. Yang jelas aku suka dan aku senang.
Teruntuk ayah Pidi Baiq. Terimakasih
sudah menciptakan kisah romantis yang sederhana ini. Peran Milea benar-benar
bagus disini. Dia benar-benar cantik dan mirip dengan apa yang ada dalam
bayanganku ketika membaca bukunya. Oh iya, dengar-dengar itu kisah nyata ya?.
Jadi bagaimana? Siapa Dilan dan Milea itu? Aku bahkan tidak tau.
Tapi, walaupun aku tidak tau siapa
sebenarnya mereka. Aku tetap senang dengan kisah ini. Boleh di ulang terus? Aku
ingin terus menonton nya setiap hari!. Hahaha….
Di tunggu Film Dilan 1991 dan Milea
(Suara dari Dilan) ya!. Aku rindu. Hahaha.

0 komentar:
Posting Komentar