Seperti biasa, pulang kuliah ditemani kemacetan yang entah kapan
akan berakhir. Penat, bising, lelah, geram, marah. Entah, sampai kapan
kemacetan ini terus berjalan.
Sejenak, ketika motorku berhenti karena kebetulan di depan ada dua
mobil yang saling bersilangan membuat kemacetan ini semakin parah. Maju kena,
mundur kena. Hingga tiba-tiba disampingku ada sebuah motor yang dikendarai oleh
seorang ibu paruh baya membonceng putri nya yang kira-kira dia seumuran
denganku. Mungkin pulang kerja, atau pulang kuliah? Begitu pikirku.
Ibu itu berusaha mencari celah ke kanan dan kiri agar motornya
terus melaju. Aku hanya tersenyum kecut seolah berkata “tidak ada jalan, bu.
Percuma”. Dan seolah mengerti, ibu itu kemudian diam dan menunggu. Sampai aku
mendengar beliau berbicara padaku “macet banget ya neng? Mau ambil kanan ga
bisa, banyak mobil gede”
Jelas, aku kaget. Beliau berbicara padaku, orang yang tidak dia
kenal sebelumnya. “hei! Kita baru bertemu sekian detik. Itu pun karena
kemacetan ini”
Aku tersenyum menanggapinya “iya bu” begitu singkat. Sampai
akhirnya beliau kembali membuka suara “ini nih, anak saya. Baru aja sembuh.
Kemaren nekat dia lewat jalur kanan, akhirnya ketabrak. Makannya sekarang saya
antar-jemput”. Ibu itu berbicara dengan penuh tekanan sambil sesekali melirik
putrinya yang masih asyik bermain hp di belakang tanpa menoleh sedikitpun
“biasa” batinku.
“kecelakaan bu?” bodoh! Jelas itu kecelakaan Veli. Kenapa harus
bertanya?. Ah, percayalah. Itu hanya bagian dari cara ku untuk menguasai diri
karena bingung harus berbicara apa untuk menanggapinya. “iya, kecelakaan.
Bener-bener deh. Mendingan nunggu aja macet kaya gini gak apa-apa. Daripada
cari celah tapi celaka” ucapnya lagi. Aku hanya bisa tersenyum, lagi. Rasanya
aku benar-benar kehabisan kata-kata.
Untunglah tidak lama kemudian, mobil-mobil di depan kami bergerak,
sedikit bisa melaju walau tidak banyak. Motor yang dikendarai ibu tadi melaju
begitu cepat, meninggalkanku yang berjalan melambat sambil sesekali berpikir
tidak percaya atas apa yang terjadi pada kami beberapa detik yang lalu.
Kembali aku tersenyum mengingatnya. Hei, Veli. Lihat! Masih ada
orang baik dan ramah di bumi ini. Kamu hanya terlalu trauma dan takut sehingga
menutup diri kemudian beranggapan semua orang adalah sama. Belajarlah dari ibu
tadi!
Itu suara ku, suara hati ku. Yang sampai sekarang aku masih tersenyum jika mengingatnya.

0 komentar:
Posting Komentar