Senin, 06 Juni 2016

SALAH SIAPA?


“Dinas pendidikan akan larang guru bawa HP ke kelas” – Bantul, Yogyakarta”


   

Nah loh gimana nih pendapat kalian tentang kalimat di atas? Itu salah satu berita yang saya dapat dari internet. Dan saya sendiri langsung tersenyum dan ketawa sinis setelah membaca itu. Jahat? Ok mari saya jelaskan. 

Jujur, dari lubuk hati yang paling dalam saya sangat setuju dengan aturan mereka. Kenapa hanya di Bantul saja? Kenapa hanya Dinas Pendidikan Bantul saja yang punya pemikiran seperti ini? Kenapa tidak dengan KEMENDIKBUD sendiri?.

Mereka berkata, itu adalah langkah yang baik untuk memaksimalkan proses belajar-mengajar di sekolah. Guru fokus, murid juga fokus. Fair kan?. Banyak sekolah yang tidak bertindak tegas terhadap masalah ini. Mengapa? Ada apa? Kenapa?.

Saya tidak sok disiplin dalam belajar. Tapi pengalaman saya dari TK sampai SMP memberikan alasan yang menurut saya logis. Saya beruntung di sekolahkan di sekolah yang memiliki tingkat kedisiplinan yang cukup tinggi. Tidak heran semenjak saya pindah sekolah, meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi dengan perbedaan yang cukup signifikan membuat saya kurang nyaman. 

TK memang belum jamannya ada HP, SD pun sama walaupun sudah ada yang punya tapi sangat sedikit teman-teman saya yg berani membawa barang itu ke sekolah kecuali ada urusan penting. Begitupun sekolah saya tidak mengijinkan anak muridnya untuk membawa HP kecuali hari sabtu itu pun masih ada aturanya. Jahat? Terlalu keras? Tidak!. Ini adalah langkah efektif dalam proses belajar mengajar di sekolah. Bahwa sebenarnya HP sangat berpengaruh buruk di sekolah. Sekali pegang HP murid tidak akan bisa kembali fokus belajar seperti sebelumnya.

SMP pun sama saya sekolah di tempat yang sama dengan tingkat kedisiplinan yang sama. Jangan heran kalau selama saya sekolah, saya dan teman-teman saya tidak menggunakan HP selama jam pelajaran dilaksanakan. Kami memang di perbolehkan membawa HP tapi di batasi hanya saat sampai di sekolah kemudian HP itu di kumpulkan tepat saat bel masuk berbunyi. HP itu di kumpulkan di satu tempat kemudian di simpan di ruang guru. Jadi selama pelajaran di laksakan tidak ada yang pegang HP. Bagaimana dengan gurunya? Guru-guru di sini benar-benar memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya. Mereka tidak akan membawa HP ke dalam kelas ketika pelajaran di mulai. Sekalipun ada yang membawa mereka bilang “maaf ya anak-anak ibu/bapak bawa HP karena ada kepentingan” ok fair kan? Dan mereka akan menaruh HP itu didalam saku baju/celana mereka. Kemudian ketika bel pulang berbunyi barulah kami di perbolehkan untuk mengambil HP kami kembali.

Apa hasilnya? Apa dampaknya? Sejauh ini yang saya rasakan dampaknya sangatlah positif. Selama kami belajar kami fokus dengan mata pelajaran yang di pelajari. Tidak sibuk seperti sekarang pegang2 HP, iseng buka Internet ketika guru menjelaskan, pasang headset untuk mendengarkan lagu saat sedang belajar. 90% kami hanya fokus pada pelajaran saat itu. Dan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik. Dulu, saat kami merasakan ada kesulitan dalam hal materi belajar yang kurang lengkap kami di persilahkan untuk menuju perpustakaan untuk mencari materi yang lain. Tidak seperti sekarang sedikit-sedikit browsing. Ya ini salah satu dampak buruk ketika murid di persilahkan membawa HP ke dalam kelas. Beruntung selama saya sekolah disana biarpun tidak boleh membawa HP saat belajar tidak menyulitkan saya mencari materi yang lebih. Tidak harus browsing internet karena perpusatakaan yang mereka fasilitasi pada kami cukup lengkap. Dan hasilnya? Bisa saya rasakan ketika saya lulus dari sekolah itu. Saya sangat puas.

Yang saya lihat sejauh ini, apa yang saya alami adalah. Sekolah yang memberikan aturan ketat seperti ini saja tidak semua muridnya fokus dalam belajar. Bagaimana yang membebaskan muridnya begitu saja membawa HP? Silahkan buat kesimpulan sendiri. Saya hanya miris dengan apa yang saya alami sekarang. Saya melanjutkan sekolah di salah satu SMK di INDONESIA. Ok INDONESIA. Karena saya masih tinggal di negara ini.

Di sekolah saya cenderung SANGAT di bebaskan membawa HP ke dalam kelas bahkan saat pelajaran berlangsung. Saya awalnya kaget, antara senang dan miris. Selama pelajaran berlangsung ketika kami kekurangan bahan materi pelajaran kami di persilahkan untuk browsing internet. Awalnya sangat membantu mengingat perpusatakaan yang di fasilitasi tidak selengkap saat saya SMP dulu. Ok ini bisa saya maklumi dan masuk akal. Mungkin salah satu tujuannya adalah membantu proses belajar mengajar. Jika cukup sejauh itu tujuannya tidak masalah. Tapi kenyataan yang saya lihat dan saya rasakan sampai sekarang adalah BURUK. Kenapa? Saya terang-terangan mengatakan ini buruk karena memang itu yang terjadi. Ada apa? Kenapa?

Selama proses belajar-mengajar berlangsung tidak sedikit para guru yang terang-terangan membawa HP ke dalam kelas. Meletakkan begitu saja di atas meja mereka, kami diam mengerjakan tugas, tidak sedikit juga dari mereka yang asyik bermain HP. Saya melihat dan menyaksikan itu secara langsung karena saya duduk paling depan berhadapan dengan meja guru. Sesekali saya perhatikan ketika kami, mereka suruh untuk mengerjakan tugas, mereka asyik bermain HP, senyum-senyum gak jelas entah apa yang sedang mereka lakukan. Ah ayolah kalian guru-guru kami, kenapa tidak mencontohkan perbuatan yang baik kepada kami. Apa alasan kalian adalah karena kami sudah dewasa? Sudah bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Ah ayolah kami juga manusia biasa. Kami memang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk tapi jika setiap hari yang kami lihat adalah suatu hal yang menyeleweng maka jangan heran dengan mudahnya kami mengikuti kalian. Lalu SALAH SIAPA?.

Tidak heran banyak dari kami murid-murid kalian yang mengikuti kalian para guru. Main HP ketika jam pelajaran berlangsung, asyik chatting ketika belajar. Seolah kami tidak bisa lepas dari benda itu. Hasilnya bisa saya lihat dan rasakan sendiri. Jujur saya juga salah satu bagian dari mereka yang masih bermain HP di kelas ketika jam pelajarang berlangsung. Tapi saya sadar diri itu salah. Saya miris melihat ini semua. Saya sendiri tidak nyaman. Belajar tidak fokus, berpikir tidak maksimal. Sesekali melirik HP entah apa tujuannya kadang pun iseng lihat jam di HP. Intinya saya pegang HP ketika jam pelajaran berlangsung.

Hasilnya? Saya rugi, sangat rugi. Saya merasakan penurunan ketika belajar. Boleh main HP tapi nanti ketika tidak ada guru ketika jam pelajaran kosong atau ketika bel istirahat berbunyi atau hal mendesak lainnya seperti mencari materi tugas. Jika sebatas itu tidak masalah. Tapi tolong jangan hanya kami yang kalian paksa untuk mematuhi aturan, melakukan perbuatan baik di sekolah. Tapi juga kalian para guru harus ikut andil dalam melaksanakan aturan itu dengan baik. Pak, Bu coba saya tanya coba kalian renungi masing-masing. Sudah berapa banyak kah kalian merazia HP murid-murid di kelas yang tertangkap basah sedang bermain HP ketika jam pelajaran kalian berlangsung? Sudah berapa sering?. SALAH SIAPA?.

Salah kami? Murid-murid karena tidak mematuhi aturan? Atau Salah aturan yang berlaku karena terlalu ketat atau tidak tegas? Salah guru kah yang ikut melaksanakan tindakan buruk itu? Salah sekolah yang memberi aturan? SALAH SIAPA?. Saya bingung ini semua SALAH SIAPA?. Tidak ada yang mau di salahkan dalam hal ini. Murid bisa saja mengelak “kami seperti ini karena kami melihat bapak/ibu guru seperti itu”. Guru bisa saja menyanggah “kalian kan sudah dewasa sudah tau mana yang buruk dan mana yang baik. Kalau kami berbuat keburukan ya kalian jangan ikuti”. Sekolah pun bisa menepis “aturan ini saya yang buat. Jadi terserah saya”. Tidakkah ada yang berbesar hati wahai kalian untuk mengakui kesalahan masing-masing?

Mau sampai kapan seperti ini? Katanya mau jadi sekolah yang maju tapi dalam hal kedisiplinan saja masih rendah. Bagaimana bisa? Bermimpi? Berkhayal? Menunggu? Tapi tidak bertindak? Kapan terlaksana?. Tegas sebentar, tapi tidak lama melunak. Lalu sampai kapan seperti ini?

Coba lihat beberapa sekolah maju yang lain, yang pernah saya singgahi sebelumnya. Mereka semua dispilin. Tingkat kedisiplinan di sekolah mereka sangat tinggi. Hasilnya? Silahkan kalian bandingkan. Silahkan kalian lihat. Tidak ada yang membohongi. Saya bahkan iri. “kapan sekolah saya seperti mereka?”. Saya bahkan hanya bisa tersenyum miris. “ah bergurau saja. Jangan mimpi”. Miris kan?.

Maaf jika saya terlalu kasar. Terlalu terbuka. Ini semua yang saya rasakan selama 2 tahun ini. Saya rindu ketika saya bisa belajar disiplin, saya rindu mendapatkan pengajar-pengajar yang disiplin, bertanggung jawab, pekerja keras, taat aturan, tulus dalam menyampaikan ilmu, saya rindu itu semua. Saya hanya ingin sekolah saya maju seperti sekolah-sekolah lain. Semua nya berkulitas, tidak hanya murid-muridnya tapi juga pengajarnya. Bukan untuk angkatan saya tapi untuk angkatan berikutnya. Saya peduli dengan sekolah ini, saya hanya ingin ketika saya lulus nanti saya bisa bangga menjadi bagian dari sekolah yang hebat.  Itu saja. Sesederhana itu....

 

Salam dari murid yang sampai sekarang tidak tahu harus bagaimana.......... 

 

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Most Popular

Featured
Videos
banner image

Labels Max-Results No.

BTemplates.com

designcart

About

Featured Post

Late Birthday Snack From My Doctor

Mama dan aku pergi kontrol yang kesekian kali di hari minggu Minggu, 30 Januari 2022. Entah sudah kali keberapa mengunjungi dokter dari se...

Blog Archive

Cari Blog Ini

Recent Posts

recentposts

Facebook

Featured

Video of the Day

Break

Games

Recent Posts

recentposts

Welcome

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!

Vix no volumus ocurreret maiestatis, quaeque alienum eum te, semper principes deseru


Find More



About Us

About Us
Aliquam sapien nulla, venenatis id finibus at, eleifend a turpis. Aliquam ac nibh id lorem ornare accumsan maximus at mauris.

Categories

Tags

Subscribe Us

Pages

Pages

Pages - Menu

Like us on Facebook

banner image

Pages - Menu

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts