24
november 2013. Aku sangat ingat tanggal ini. Tanggal dimana kamu telah dulu
pergi meninggalkan kami teman-temanmu, yang sangat berharap besar bisa berpisah
bersama-sama di waktu yang telah ditentukan. Menghabiskan semua waktu itu
mungkin untuk yang terakhir kali. Tapi Tuhan berkehendak lain. Tepat di hari
minggu 24 november 2013 kamu menghembuskan nafas terakhirmu dirumah sakit.
Dengan damai dan tenang, kamu pergi menghadap Tuhan yang Maha Kuasa.
Sungguh diluar pemikiranku, bahkan aku
tak pernah berfikir kita akan berpisah di waktu yang begitu cepat. Saat tawa
menjelma, saat itu pula tangis mengiring. Hari itu menjadi hari penuh air mata
mengiring kepergianmu untuk selamanya. Dan hari itu pula langit menangis,
mengeluarkan kesedihan itu lewat air matanya yang menjelma menjadi air hujan. Mungkin
dunia bersedih, kehilangan orang baik, tabah, solehah, dan sabar sepertimu.
Iya, dunia terlalu sedih melepas kepergianmu saat itu. Begitupun dengan kami
teman-temanmu yang ikut menangisi kepergianmu yang terlalu cepat. Maaf, jika
harus air mata kesedihan ini yang mengiring kepergianmu.
Jika ingat kisah hidupmu bersama kami
3 tahun kebelakang, sungguh itu begitu indah untuk dikenang. Tentang kamu yang
selalu memberi inspirasi dan motivasi untuk kami. Teman-temanmu yang begitu
sayang padamu. Hingga akhir waktu itu menghampiri. Aku ingat saat pertama kali
tau tentang kamu yang mengidap Leukimia itu. Aku terkejut saat tau bahwa kamu
adalah orangnya. Saat itu aku baru tau tentang penyakit itu, setelah beberapa
hari sebelumnya aku sempat membaca tentang penyakit itu. Penyakit yang tidak
semua orang bisa dengan ikhlas dan tabah melewatinya. Menerima titipan Tuhan
walau bukan itu yang kamu mau.
Aku ingat betul saat tawa riang tanpa
beban itu kamu ulaskan dengan indah di wajahmu. Saat itu wajahmu masih putih
bersih, tubuhmu masih seperti biasa layaknya orang-orang lainnya yang sehat.
Tak ada perubahan yang begitu menonjol terlihat oleh mata tentang kamu yang
tengah berjuang melawan rasa sakit yang Tuhan titipi pada tubuhmu.
Hingga hampir 3 tahun kita bersama,
melewati setiap tawa dan tangis bersama. Kamu mungkin mulai menyerah. Saat itu
kamu bilang “udah banyak nyawa yang direnggut sama leukemia, gue kapan?” aku
ingat sekali kalimat itu. kalimat yang kau uraikan dari mulutmu yang kau akhiri
dengan senyuman getir. Aku diam, mendengar kata demi kata yang kau ucapkan
hingga menjadi sebuah kalimat. Kalimat mengerikan tentang menyerah dalam hidup.
Kami semua berusaha untuk tetap menghiburmu, menyemangatimu, membuatmu
tersenyum, dan berbagi rasa sakit itu bersama kami.
Hingga pada akhir dari perjuanganmu,
kami masih sempat melihat wajahmu. Hari itu, hari minggu yang kelam menurutku.
Betapa tidak? Selain kondisi badanku yang saat itu kebetulan sedang drop lalu
mendapat berita tentang kamu yang telah pergi, itu seperti cambuk yang
menghantam keras tubuhku tanpa aba-aba. Sakit memang, tapi itulah kenyataan. Aku
ingat dua hari yang lalu aku seperti mendapat panggilan untuk menemuimu. Tapi
sayang kesempatan itu lagi-lagi terbuang sia-sia. Maaf, di dua hari terakhirmu
aku yang sangat ingin menemuimu mengurungkan kembali niatku. Dan hanya mereka
lah teman-teman yang lainnya yang sempat menjengukmu.
Kenangan itu terlalu panjang untuk aku
rangkai lewat tulisan menjadi sebuah cerita indah. Terlalu lama jika aku
merangkainya kembali menjadi sebuah cerita yang sesungguhnya. Kini, tinggallah
namamu yang dapat kami ucapkan, tanpa dapat melihat kehadiran fisikmu didepan
mata kami. Kini, tinggallah kenangan yang dapat kami ingat, tanpa ada lagi
canda tawa sesungguhnya yang terjadi. Semua telah berakhir, dan rasa sakitmu
kini telah hilang.
Aku tahu, ini semua bukan seperti yang
kamu inginkan. Berakhir lebih dulu ketimbang kami yang berharap dapat bersamamu
lebih lama. Merayakan kelulusan kami dengan tawa dan air mata. Tanpa disadari
hari itu satu orang tiada disamping kami. Iya, kamu… yang lebih dulu pergi
ketimbang kami. Aku tak pernah tau, apakah semuanya menyadari akan ketiadaan
dirimu atau tidak? Aku pun tak tahu apakah yang lain masih ingat tentang kamu
dihari perpisahan itu. Aku pun lebih tak tau lagi, apakah yang lainnya masih
menyimpan namamu dalam memori ingatannya atau tidak? Walau hanya sebatas nama yang
terlintas bangsa sedetikpun. Aku yakin, mungkin tak semuanya seperti itu. Tapi,
itu tak perlu memaksa.
Hanya sebatas ucapan terimakasih yang
dapat aku lukiskan kepadamu. Walau ragamu tak lagi bersama kami. Tapi, kenangan
indah itu akan terus menjadi penghuni di memori kami, walau kadang kami sempat
melupakannya. Terimakasih atas waktumu yang telah bersedia hadir bersama kami.
Walau hanya sebentar, tapi itu semua menjadi pelajaran. Terimakasih untuk Tuhan
yang telah memberikan kami kesempatan bersamamu dan menghabiskan waktu 3 tahun
terakhir di masa hidupmu. Menjadi mengerti tentang apa itu persahabatan,
kehidupan, semangat, perjuangan dan banyak lagi.
Dan sekarang…. Biarkanlah kami
mengenangmu lewat memori indah itu. Biarkanlah kami mengambil semua pelajaran
tentang kehidupan lewat masa yang pernah kami lewati bersamamu. Biarkan
semuanya menjadi kenangan, atau bahkan sejarah dalam hidup kami….
#teruntuksahabatkamiyangtelahdulupergi#
Alm. Rida Aliyah
15/08/2014
Bogor
Author
Velia Pratiwi

0 komentar:
Posting Komentar