![]() |
| Add caption |
RESENSI NOVEL
HUJAN&TEDUH
Judul buku : Hujan dan Teduh
Penulis :
Wulan Dewatra
Tebal buku
: 250 halaman
Tahun
terbit : 2011
Penerbit : Gagas Media
Penerbit : Gagas Media
Email : redaksi@gagasmedia.net
Pertama kali mendengar judul novel ini terasa aneh. Masih bertanya-tanya seperti apa sih isinya? Dan ternyata WAWWW seperti orang tersedak saat meminum teh panas di pagi hari. Sungguh luar biasa isi dari novel tersebut. Walaupun awalnya sedikit aneh dengan cerita kedua insan yang menjalin cinta sesama jenis. Namun jalan ceritanya sangat bagus. Ditambah kata-katanya yang sederhana tapi menawan. Banyak sekali hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dalam kehidupan kita.
Sebuah kisah
cinta remaja yang berbeda dari kehidupan remaja yang lain. Kisah cinta yang
sangat tak lazim untuk ditiru apalagi dilakukan oleh kita semua. Dari tokoh
yang bernama Kaila dan Bintang, dua insan remaja yang mengikat tali percintaan
sesama jenis. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka hingga mereka melakukan
semua ini. Mereka melakukannya secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi dari
teman-teman yang lain. Namun tak disangka Kaila dan Bintang juga ternyata
memiliki perasaan terhadap cowok. Sungguh aneh bukan? Ya tapi itulah kisah
mereka. Hingga sampai suatu saat kisah percintaan mereka diketahui oleh banyak
orang dan kedua pacar mereka. Bintang dan Kaila pun berpisah namun semata-mata
ini adalah permintaan dari Kaila yang Bintang sendiri bingung apa alasannya
menjauhi Bintang.
Daniel sosok
sahabat yang baik dan dekat dengan Bintang dan sepertinya menyimpan rasa pada
Bintang pun mulai membuka hati Bintang secara perlahan. Menasihatinya untuk
berubah menjadi perempuan normal yang mampu mencintai laki-laki secara penuh.
Bintang pun menuruti semua ucapan Daniel dan mulai membuka hatinya untuk
laki-laki. Bintang berpacaran dengan laki-laki bernama Noval, orang yang selama
ini mengisi hatinya. Namun tetap saja bayang-bayang cinta masih ia rasakan
kepada Kaila. Hingga insiden berdarah yang menimpa Kaila pun terjadi. Kaila
mati tragis dalam keadaan menggenaskan didalam kamar mandi termandikan darah.
Yang tak lain penyebabnya adalah Reno kekasih Kaila.
Hal yang tak
lazim pun dilakukan oleh Bintang dan Noval. Mereka hanyut dalam permainan
setan. Sebuah hadiah dari Tuhan yang tidak sama sekali Bintang inginkan, dan
mereka buat dengan perbuatan yang salah. Dengan bodohnya Bintang pun menuruti
permintaan Noval untuk menggugurkan kandungannya. Pembunuh!!! Pikirku seperti itu.
Bintang dan Noval berhasil membunuh janin tersebut yang sama sekali tidak
berdosa. Namun semuanya berakhir dengan miris. Rahim Bintang terpaksa diangkat
karena terinfeksi. Waktu pun berjalan, setelah Bintang melakukan pengangkatan
rahim dan pindah ke Bandung untuk memulai lembaran kisah baru dalam hidupnya.
Memulainya dari awal, dan berharap semua kesalahannya dimasa lalu tak terulang.
Akhir kisah yang menggantung menjadi tanda tanya besar bagiku. Sebenarnya
bagaimana kah kelanjutan kisah cinta Bintang dan Noval?. Aku berfikir mungkin
akhir kisah tersebut diserahkan kepada pembaca untuk menebak sendiri apakah
Bintang dan Noval bersatu atau tidak.
Seperti
judulnya “Hujan dan Teduh” ditakdirkan bertemu namun tidak bersama dalam
perjalanan. Seperti itulah kisah percintaan Bintang dan Kaila yang sangat
menyimpang, dan begitupun dengan kisah percintaan Bintang dan Noval. Tuhan
menakdirkan mereka bertemu namun apakah mungkin Tuhan tidak mempersatukan
mereka?
Sebuah kisah
yang sangat menakjubkan. Namun jika saya boleh mengkritik kekurangan dari novel
ini adalah ada beberapa kata-kata yang menurut saya kurang pas dalam rangkaian
kalimat. Namun secara keseluruhan sangat baik. Saya sangat menyukainya. Dan
berharap kisah ini dapat diangkat kesebuah film layar lebar.
“Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan
Yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu
Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka
Dan, kebersamaan Cuma memperbanyak ruang tertutup
Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu
Dan jalanku. Meski diam-diam aku masih saja menatapmu
Dengan cinta yang malu-malu
Aku dan kamu seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau
Mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan
Bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan.
Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu
Mungkin jalan kita tidak bersimpangan”
TERIMAKASIH UNTUK KAK WULAN DEWATRA J J J

0 komentar:
Posting Komentar