Sore
itu terasa sangat tenang di temani alunan tawa riang dari bocah-bocah kecil
yang sedang bermain di sepanjang jalan depan rumahku. Beberapa diantaranya
asyik bermain dengan sepedanya masing-masing dan beberapa yang lainnya sedang
asyik pula dengan permainan seru bersama teman-teman sebayanya.
Aku
jadi teringat masa kecilku dulu yang penuh dengan keceriaan. Saat kepolosan
menjadi arah dan tujuanku saat itu. Yang aku tahu hanya tertawa, menangis,
teman-teman, dan sebagainya layaknya anak kecil.
Disaat
sedang asyik bernostalgia di balik jendela sambil memandangi anak-anak kecil
yang dari tadi asyik berlalu lalang. Lamunanku di kagetkan oleh suara tangis
bocah perempuan dari arah kanan menuju rumahku. Saat aku memutuskan untuk
melihatnya ternyata benar, bocah itu sedang menangis dan disampingnya ada satu
temannya yang dengan setia mencoba menenangkannya.
Aku
terkejut saat mendengar satu kalimat di sela-sela tangisnya. Anak itu memanggil-manggil
seseorang sambil berjalan terus ke depan dengan tangan kanannya yang aku lihat
sedang membawa sebuah pulpen hitam…
“maaa….
Maafin aku ma… aku gak sengaja.. huaaa” tangisnya semakin pecah. Begitulah kira-kira
kalimat yang ia keluarkan. Aku semakin bingung ‘apa maksudnya? Apa mamanya
marahin dia?’. ‘kenapa juga dia bawa-bawa pulpen hitam?’. Lagi-lagi aku
bertanya pada diriku sendiri. Tak jauh dari tempat si bocah itu menangis ada
seseorang yang mendekat menghampirinya. “kenapa?” suara itu terdengar begitu
lembut, seperti suara… ah iya itu suara ibunya. Ujarku menebak. Ternyata tebakanku
tak meleset.
“kenapa
nangis?” kini pertanyaan ibu itu ia alihkan pada bocah kecil disamping anaknya
yang sedang menangis. Temannya lalu menjawab “tadi katanya pulpennya yang disuruh
beli sama ibu hilang satu bu. Jadi dia nangis” dengan tampang polos ia
menjawab. Ibunya tersenyum dan mendekat kearahnya. Anak itu masih saja
mengulang kata ‘maaf’ berkali-kali pada ibunya. “gak apa-apa. Mama gak marah
kok” sambil tersenyum. “hilang satu gak apa-apa” lagi-lagi senyum khas seorang
ibu yang ia lukiskan di wajahnya. Bocah kecil itu kemudian berhenti menangis,
setelah di tenangkan oleh ibunya. Pada akhirnya mereka pulang ke rumah
bersama-sama.
Pemandangan
indah itu seketika berakhir. Aku jadi berfikir bagaimana si bocah kecil itu mempertanggungjawabkan
apa yang sudah ia lakukan. Walau sebenarnya itu adalah hal yang wajar di
lakukan anak kecil. Ia begitu takut jika apa yang ia amanahkan padanya tidak
sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh si pemberi amanah itu. Mungkin kita
akan berfikir “ya ampun Cuma pulpen hilang satu aja di tangisin”. “Cuma pulpen doang,
beli lagi kan bisa” begitulah mungkin serentetan pendapat kita menanggapi hal
ini. ‘Cuma’ kata itu begitu mudah kita ucapkan tanpa tahu ada sejuta makna dari
balik kata sederhana itu.
Kawan,
coba kita renungkan sejenak. Berfikirkah kita saat mendengar bagaimana anak itu
mengulang kata ‘maaf’ berkali-kali kepada ibunya? Bagaimana takutnya anak itu
jika pulpennya hilang satu? Padahal itu hanya sebuah pulpen. Yang mungkin kita
berfikir itu hanya sebuah hal sederhana. ‘ah pulpen doang. Beli lagi juga bisa’
itu kah yang kita ucapkan dari mulut kita jika kita yang merasakan kejadian
itu?
Ini
sebuah hal yang sederhana. Tapi tahukah kawan? Dibalik kesederhanaan tersirat
sejuta hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Contoh kecilnya dari cerita
ini. Bocah kecil itu begitu kuat mempertahankan apa yang telah diamanhkan dari
sang ibu. Mempertanggungjawabkan, bahkan ia begitu takut saat pulpen yang ia
beli hilang satu.
Kawan,
ini anak kecil! Dia sudah bisa menanamkan sikap tanggung jawab pada dirinya. Dia
masih anak-anak yang umurnya baru memasuki 5 tahun. Tapi sifat dan pola pikirnya
lebih dewasa dari umurnya. Malu kah kita kawan? Sudah sebesar ini terkadang,
bahkan sering kita menyepelakan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Meremehkan
apa yang menjadi tanggung jawab kita yang di beri kepercayaan melakukan
sesuatu? Itu kah yang kita banggakan? Itu kan yang sering kita lakukan?. Bercerminlah
dan belajarlah dari anak kecil itu kawan. Belajar bagaimana kejujuran dan
tanggung jawab menjadi pondasi sifatnya, menempel kuat dalam hatinya. Atau mungkin
malah menjadi prinsip hidupnya. Lagi-lagi dia hanya anak kecil, anak polos yang
gak tahu apa-apa tentang hidup ini yang sesungguhnya.
Jangan
lihati dari kepolosannya, walau kita tak tahu apa yang sebenarnya ada didalam
hati dan pikirannya. Tapi lihat sifat polos itu menjadikan dia sebagai anak
kecil yang jujur dan bertanggung jawab… J
Kisah
ini aku ambil dari kisah hidupku sebenarnya J
this is a real story….
Semoga
ini bermanfaat untuk semuanya J
Bogor, 05/08/2014
Velia pratiwi

0 komentar:
Posting Komentar