Selasa, 05 Agustus 2014

BELAJAR DARI KEPOLOSAN ANAK KECIL


Sore itu terasa sangat tenang di temani alunan tawa riang dari bocah-bocah kecil yang sedang bermain di sepanjang jalan depan rumahku. Beberapa diantaranya asyik bermain dengan sepedanya masing-masing dan beberapa yang lainnya sedang asyik pula dengan permainan seru bersama teman-teman sebayanya.

Aku jadi teringat masa kecilku dulu yang penuh dengan keceriaan. Saat kepolosan menjadi arah dan tujuanku saat itu. Yang aku tahu hanya tertawa, menangis, teman-teman, dan sebagainya layaknya anak kecil.

Disaat sedang asyik bernostalgia di balik jendela sambil memandangi anak-anak kecil yang dari tadi asyik berlalu lalang. Lamunanku di kagetkan oleh suara tangis bocah perempuan dari arah kanan menuju rumahku. Saat aku memutuskan untuk melihatnya ternyata benar, bocah itu sedang menangis dan disampingnya ada satu temannya yang dengan setia mencoba menenangkannya.

Aku terkejut saat mendengar satu kalimat di sela-sela tangisnya. Anak itu memanggil-manggil seseorang sambil berjalan terus ke depan dengan tangan kanannya yang aku lihat sedang membawa sebuah pulpen hitam…

“maaa…. Maafin aku ma… aku gak sengaja.. huaaa” tangisnya semakin pecah. Begitulah kira-kira kalimat yang ia keluarkan. Aku semakin bingung ‘apa maksudnya? Apa mamanya marahin dia?’. ‘kenapa juga dia bawa-bawa pulpen hitam?’. Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri. Tak jauh dari tempat si bocah itu menangis ada seseorang yang mendekat menghampirinya. “kenapa?” suara itu terdengar begitu lembut, seperti suara… ah iya itu suara ibunya. Ujarku menebak. Ternyata tebakanku tak meleset.

“kenapa nangis?” kini pertanyaan ibu itu ia alihkan pada bocah kecil disamping anaknya yang sedang menangis. Temannya lalu menjawab “tadi katanya pulpennya yang disuruh beli sama ibu hilang satu bu. Jadi dia nangis” dengan tampang polos ia menjawab. Ibunya tersenyum dan mendekat kearahnya. Anak itu masih saja mengulang kata ‘maaf’ berkali-kali pada ibunya. “gak apa-apa. Mama gak marah kok” sambil tersenyum. “hilang satu gak apa-apa” lagi-lagi senyum khas seorang ibu yang ia lukiskan di wajahnya. Bocah kecil itu kemudian berhenti menangis, setelah di tenangkan oleh ibunya. Pada akhirnya mereka pulang ke rumah bersama-sama.

Pemandangan indah itu seketika berakhir. Aku jadi berfikir bagaimana si bocah kecil itu mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia lakukan. Walau sebenarnya itu adalah hal yang wajar di lakukan anak kecil. Ia begitu takut jika apa yang ia amanahkan padanya tidak sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh si pemberi amanah itu. Mungkin kita akan berfikir “ya ampun Cuma pulpen hilang satu aja di tangisin”. “Cuma pulpen doang, beli lagi kan bisa” begitulah mungkin serentetan pendapat kita menanggapi hal ini. ‘Cuma’ kata itu begitu mudah kita ucapkan tanpa tahu ada sejuta makna dari balik kata sederhana itu.

Kawan, coba kita renungkan sejenak. Berfikirkah kita saat mendengar bagaimana anak itu mengulang kata ‘maaf’ berkali-kali kepada ibunya? Bagaimana takutnya anak itu jika pulpennya hilang satu? Padahal itu hanya sebuah pulpen. Yang mungkin kita berfikir itu hanya sebuah hal sederhana. ‘ah pulpen doang. Beli lagi juga bisa’ itu kah yang kita ucapkan dari mulut kita jika kita yang merasakan kejadian itu?

Ini sebuah hal yang sederhana. Tapi tahukah kawan? Dibalik kesederhanaan tersirat sejuta hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Contoh kecilnya dari cerita ini. Bocah kecil itu begitu kuat mempertahankan apa yang telah diamanhkan dari sang ibu. Mempertanggungjawabkan, bahkan ia begitu takut saat pulpen yang ia beli hilang satu.

Kawan, ini anak kecil! Dia sudah bisa menanamkan sikap tanggung jawab pada dirinya. Dia masih anak-anak yang umurnya baru memasuki 5 tahun. Tapi sifat dan pola pikirnya lebih dewasa dari umurnya. Malu kah kita kawan? Sudah sebesar ini terkadang, bahkan sering kita menyepelakan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Meremehkan apa yang menjadi tanggung jawab kita yang di beri kepercayaan melakukan sesuatu? Itu kah yang kita banggakan? Itu kan yang sering kita lakukan?. Bercerminlah dan belajarlah dari anak kecil itu kawan. Belajar bagaimana kejujuran dan tanggung jawab menjadi pondasi sifatnya, menempel kuat dalam hatinya. Atau mungkin malah menjadi prinsip hidupnya. Lagi-lagi dia hanya anak kecil, anak polos yang gak tahu apa-apa tentang hidup ini yang sesungguhnya.

Jangan lihati dari kepolosannya, walau kita tak tahu apa yang sebenarnya ada didalam hati dan pikirannya. Tapi lihat sifat polos itu menjadikan dia sebagai anak kecil yang jujur dan bertanggung jawab… J

Kisah ini aku ambil dari kisah hidupku sebenarnya J this is a real story….
Semoga ini bermanfaat untuk semuanya J



Bogor, 05/08/2014
 Velia pratiwi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Most Popular

Featured
Videos
banner image

Labels Max-Results No.

BTemplates.com

designcart

About

Featured Post

Late Birthday Snack From My Doctor

Mama dan aku pergi kontrol yang kesekian kali di hari minggu Minggu, 30 Januari 2022. Entah sudah kali keberapa mengunjungi dokter dari se...

Blog Archive

Cari Blog Ini

Recent Posts

recentposts

Facebook

Featured

Video of the Day

Break

Games

Recent Posts

recentposts

Welcome

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!

Vix no volumus ocurreret maiestatis, quaeque alienum eum te, semper principes deseru


Find More



About Us

About Us
Aliquam sapien nulla, venenatis id finibus at, eleifend a turpis. Aliquam ac nibh id lorem ornare accumsan maximus at mauris.

Categories

Tags

Subscribe Us

Pages

Pages

Pages - Menu

Like us on Facebook

banner image

Pages - Menu

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts